Google
 

Kita Bersama.......Berusaha....... Menuju....... Kemurnian......Dalam Kedamaian

Monday, April 30, 2018

Wednesday, November 5, 2008

Mudik Lebaran 1429 H


Jika Anda memilih mudik menggunakan kendaraan pribadi, sangat bijaksana untuk mempersiapkan segalanya, termasuk kendaraan yang akan digunakan.

Kondisi Kendaraan

Sangat bijaksana jika melakukan persiapan total kendaraan yang akan digunakan mudik bersama keluarga. Periksa kondisi keseluruhan kendaraan, mulai dari mesin, rem, ban, kopling, lampu, busi, dan -lainlainnya, apakah masih layak digunakan untuk melakukan perjalanan jauh. Idealnya, dua minggu sebelum mudik memeriksa kondisi kendaraan. Lakukan pengecekan di bengkel dan pastikan kendaraan dalam kondisi prima. Bila ada yang kurang beres masih bisa diperbaiki ulang sebelum perjalanan panjang.

Periksa kondisi mobil dan servis ke bengkel langganan. Tune-up komplet, meliputi rem, ban, wiper, radiator, tali kipas/AC, aki, dan lain-lain. Jangan lupa membawa perlengkapan mobil (tools kit), dongkrak, tali derek, ban serep, kotak P3K, segitiga pengaman, kunci roda, dan senter.

Agar perjalanan mudik aman dan nyaman, tidak ada salahnya mengecek tekanan angin ban kendaraan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Belilah alat pengukur tekanan ban yang baik. Ukurlah tekanan tiap ban secara berkala setiap bulan. Pertahankan tekanan angin sesuai rekomendasi pabrik pembuat mobil. Pengguna sering salah kaprah, menggunakan patokan tekanan angin ban maksimal seperti tertera di dinding ban. Tekanan angin ban bervariasi sesuai temperatur udara. Biasanya terjadi perubahan 1-2 Psi setiap perubahan 10° Celsius. Jadi, jika lupa kapan terakhir kali mengecek tekanan angin ban, sebaiknya segera mengecek kembali.

Sumber arsticle : www.vhrmedia.com/vhr-news/bingkai,Mudik-Aman-...

Tuesday, October 14, 2008

Peran Doa Anak Sholih Terhadap Nasib Orang Tua

Oleh: Hari Wuryanto, SPd
Sabda Rosululloh SAW menurut Abu Ghuroiroh dalam Sunan Abu Dawud no. hadis 2880 bahwa ketika seseorang meninggalkan dunia/wafat, maka putuslah amalannya kecuali 3 perkara, antara lain sodakoh jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendoakan, lalu bagaimana kedudukan hadis tersebut, serta seberapa besar peranannya terhadap nasib orang yang sudah meninggal dunia?
Ilmu (dasar hukum) agama Islam yang terdiri dari kurang lebih 6237 ayat al-Quran dan belasan ribu lebih matan/conten /isi hadis, pada dasarnya semua membentuk pengertian yang menyeluruh sebagaimana satu bangunan raksasa.
Satu atau beberapa ayat dalam satu surat pada kenyataannya dapat berhubungan dalam satu rangkaian tafsir/pengertian secara berkelanjutan, dengan satu ayat atau beberapa ayat yang lain dalam surat yang sama atau pada surat yang lain.
Demikian pula halnya tafsirannya bisa tersebar di berbagai imamul hadis, yang terkenal dengan Kutubusitah, yaitu enam kitab hadis paling sohih yang sudah diakui ulama Islam se dunia, diantaranya :Sohih Bukhori, Sohih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasai, Sunan Ibnu Madjah, Sunan Tirmidzi.
Selain enam kitab hadis yang sudah termashur tersebut, masih ada lagi puluhan kitab yang sering juga dipakai rujukan/acuan dalam pengambilan dalil / hujah sumber hukum antara lain : Sunan Darimi, Sunan Dailami, Tobroni, ad-Daru Qutni, Sunan Ahmad, Baihaqi, al-Khoroiti, Ibnu Abdil Bari dll.
Meskipun letaknya terpisah-pisah namun pada dasarnya semua saling berkaitan satu sama lain, saling menjelaskan sehingga terbentuklah pengertian yang utuh,total.
Ibaratnya satu rumah yang besar, meskipun tersusun dari puluhan, ratusan bahkan ribuan material, namun semuanya saling terkait, satu bagian dengan bagian yang lain saling mendukung secara integral / terpadu, menyempurnakan menjadi bangunan yang kokoh.
Mendalami ilmu agama Islam ibarat mengamati dan mencermati bagian demi bagian material, memerlukan waktu yang relatif lama secara berkesinambungan, makin lama makin jelas mendapat gambaran pengertian yang global.
Mengandalkan dengan mempunyai satu, dua atau beberapa material saja secara terpisah, maka tentu belumlah cukup untuk memperoleh gambaran secara utuh tentang tema yang dimaksud, seperti orang mau membangun rumah hanya dengan satu, dua atau tiga materi tentu belum cukup memperoleh manfaat / fungsi sebagaimana tujuan membuat rumah.
Demikian pula halnya mendalami satu ayat atau hadis secara terpisah kadang belum tentu langsung mendapatkan pengertian secara keseluruhan dari maksud yang terkandung didalamnya, karena kelanjutannya atau tafsirnya berada tersebar di beberapa ayat atau hadis yang lain.
Lebih jauh lagi, mengutip pernyataan Bapak Wakil Presiden H M Yusuf Kalla pada home page detik.com, Kumpulan Liputan Media Rakernas LDII Jakarta 6-8 Maret 2007 hal.29 berjudul" Salah Paham Agama Karena Pemahaman Tidak Utuh". Dijelaskan bahwa: "Pemahaman yang tidak utuh mengenai syariat Islam di internal umat Islam, merupakan penyebab salah paham kalangan non muslim terhadap ajaran Islam. Menjadi tugas para pendakwah menyelesaikan masalah ini".
Hal ini disampaikan Wakil Presiden HM Yusuf Kalla dalam dialog dengan Dewan Pengurus LDII di kediaman resmi Wapres Jl.Diponegoro No.2 Jakarta, Jumat (9/3/2007).
Kesungguhan, ketelitian serta ketekunan secara berkesinambungan dalam mendalami agama Islam dengan mengkaji makna dan pengertian dari ayat per ayat al-quran atau butiran demi butiran hadis, melalui arti kata demi kata serta menyimpan pengertian - pengertian yang diperolehnya dalam memori ingatan kita, maka dengan sendirinya kita akan kaya dengan kazanah, wawasan ilmu agama yang semakin lama semakin luas, sehingga akan terbentuklah gambaran Islam secara utuh, total.
Hal ini merupakan sebagian modal untuk memperoleh kembali pengertian yang utuh mengenai agama Islam sesuai dengan hukum syariat sebagaimana dicontohkan oleh Rosululloh SAW.
Dengan analogi kerangka berpikir (yang logis) seperti di atas, maka untuk mencari kejelasan aplikasi/penerapan hadis Abu Dawud no.2880 pada judul tulisan ini tersebut, perlu dicari dukungan atau hubungan dengan dalil naqli yang otentisitasnya lebih tinggi yaitu Kitab Suci al-Quran.
QS.Saba'(34)
37.Dan bukanlah hartamu dan juga bukanlah anak2 mu yang akan bisa mendekatkan dirimu pada suatu kedudukan /pangkat di sisi kami(Alloh), kecuali orang yang beriman dan beramal solih,(khusus bagi orang iman dan amal solih, maka harta dan anak2nya bisa mendekatkan/berpengaruh baik terhadap kedudukan orang tuanya yang sudah meninggal). Semuanya itulah pembalasan yang dilipatkan sebab apapun yang telah meraka amalkan dan mereka di dalam panggung yang aman(di surga).
38.Dan orang-orang yang berusaha melemahkan ayat kami(Alloh) (dengan tafsirannya sendiri, mendebat mengalahkan kemurnian kandungan ayat al-quran), mereka itu lah yang akan didatangkan kepada siksaan.
QS.Ali Imron(3):10
Sesungguhnya orang yang kufur (tidak percaya), harta maupun anak mereka tidak bisa sedikitpun menolak siksaan dari Alloh, dan merekalah sebagai bahan bakarnya api neraka.
QS.As-Syu'aro'(26)
88.(Hari kebangkitan/qiyamat) adalah hari/saat di mana anak dan harta tidak memberi manfaat (harta dan anak /ahli waris yang ditinggalkan tidak ada manfaatnya).
89.Kecuali orang yang datang kepada Alloh (meninggal dunia dipanggil Alloh) dengan hati yang menyerah (Islam/Iman)
QS.Fathir(35):18" Dan tidaklah bisa seseorang akan menanggung beban (tanggungan/dosa ) orang lain, dan jika seseorang diseru untuk menanggung beban dosa orang lain yang berat dosanya, maka tidak akan bisa ditanggung sedikit saja, meskipun yang menyeru itu adalah kerabatnya sendiri (anak ,orang tua, suami, istri dll)…..al-ayat"
Dari beberapa uraian di atas maka dapat diambil beberapa pengertian:
Nasib seseorang kelak di hari qiyamat/di sisi Alloh SWT adalah hanya tergantung pada individu/pribadi orang itu sendiri sebelum meninggal dunia.
Sedang pemberlakuan hadis Abu Dawud tentang 3 perkara di bagian atas tulisan ini, hanya sebagai tambahan, setelah syarat yang pertama terpenuhi yaitu selama hidup sebelum meninggalnya orang tersebut betul-betul sudah beriman / Islam = menyerah kepada Alloh SWT.
Pengertian QS.At-Thur (52):21 bahwa Orang yang beriman dan diikuti oleh anak turunnya yang juga beriman, maka Alloh akan mempertemukan pada derajat yang sama, (bahkan bisa mengikuti derajat anaknya yang lebih tinggi), dan Alloh tidak mengurangi derajat amalan salah satu di antara mereka. Dari semua pengamalan seseorang, maka diri orang yang beramal itulah yang akan menjadi tebusannya.
Dengan hanya mengandalkan tiga perkara, amal/sodakoh jariah, ilmu yang diambil manfaatnya, serta anak solih yang mendoakan, namun kalau hakikatnya seseorang itu belum Iman /Islam (sesuai dengan kualifikasi (ukuran) syari'at / ketentuan dari Alloh), maka penjabaran firman Alloh SWT di atas semoga dapat memberi gambaran yang jelas.
Syarat anak yang mendoakan orang tua.
Syarat berikutnya, agar doa sang anak bisa sampai kepada orang tua yang beriman, maka dari penelitian ayat-ayat al-Quran di temukan bahwa, anak tersebut juga anak yang sholih.
Tentu saja kriteria kesholihannya menurut ukuran standart dari Dzat yang mengabulkan / menyampaikan doa kepada alamat tujuan. Bukan lain hanyalah Alloh SWT.
QS.Ali Imron(3):113-114 = Tidaklah sama (di antara mereka) orang ahli kitab ada umat yang menetapi /konsekwen, mereka membaca kitab pada waktu malam(termasuk waktu yang lain), dan mereka bersujud (mengerjakan solat). Mereka beriman pada Alloh, serta hari akhirat, mereka memerintah kepada kebaikan mencegah yang mungkar, mereka berlomba-lomba/cepat-cepat dalam melakukan kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang sholih.
Sedangkan penjelasan Rosululloh SAW yang merupakan tafsiran dari ayat di atas ditemukan dalam al hadis Sunan Abu Dawud Juz 1 no.hadis 1453 bahwa" barang siapa yang membaca al-quran dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya (karena paham dan yakin maksudnya) , maka ke dua orang tuanya di hari qiyamat akan diberi mahkota, yang mana sinarnya lebih baik/terang dari pada sinarnya matahari di rumah dunia, seandainya(mahkota itu ) ada di kalangan kamu sekalian. Maka bagaimana persangkaan kamu terhadap orang yang mengamalkan al-Quran itu sendiri?"
Hadis tentang anak solih yang memintakan ampunan bagi ke dua orang tua (yang juga solih) dapat ditemukan dalam himpunan hadis ahkam hal.19/Riwayat Ahmad Juz 4 hal/no.hadis 242 sabda Rosululloh SAW " Sesungguhnya Alloh SWT niscaya mengangkat derajatnya hamba yang solih di surga. Hamba tersebut lalu (merasa heran karena sadar kenaikan derajatnya bukan atas amalannya sendiri) lalu berkata "wahai tuhanku bagaimana ini bagi saya (derajatnya naik)? Alloh menjawab "karena permohonan ampunan dari anakmu untukmu"
Dari beberapa ayat di atas juga dipadukan dengan al-hadis, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa yang dimaksud orang yang solih menurut Alloh adalah orang yang membaca kitab al-Quran /paham maksudnya dan mau mengamalkan secara murni dan konsekwen. Dengan keimanan/kesolihan yang sama antara orang tua dengan anaknya, maka orang tuanya secara automatis akan diberi bonus tambahan berupa mahkota kehormatan di hari qiyamat.
Aabila orang tua yang solih/beriman bisa memiliki anak yang juga solih /beriman, yang paham agama, pandai membaca al-quran, mengerti arti yang dibacanya sehingga bisa mengamalkan secara murni dan konsekwen, mau dan mampu amar makruf nahi mungkar/berdakwah, maka sungguh suatu kehormatan, kemulyaan yang sejati yang kelak dapat dibanggakan di hadapan Alloh.
Dengan mengikuti ketentuan hukum Alloh SWT sesuai uraian beberapa dalil al-quran dan al-hadis di atas maka Doa Anak Solih sebagai salah satu dari amalan yang terus mengalir/amal jariah, insyaAlloh akan terkabul. Amin.
Data lengkap penulis:
· Pengasuh Majlis Ta’lim Bina Istiqomah, Pringwulung, Kradenan, Srumbung, Magelang 
· Pengasuh TPQ Qurrota A'yun , Pringwulung, Kradenan, Srumbung, Magelang
· E-mail : febrar20@gmail.com
· Hp : 081393855313 , 087745580354 (WA)

Thursday, September 25, 2008

Info Kursus Gratis


Di sela-sela kejenuhan dan kepadatan memori pikiran manusia yang senantiasa dijejali ambisi duniawi, rasanya kian hari kian otak manusia serasa kian memanas.


Ada saatnya pikiran kita memerlukan penyegaran, refreshing, yang dapat menyegarkan lagi gairah hidup ini.


Kalau saja manusia dapat menyeimbangkan arah pemikirannya, maka hasrat tercapai kedua-duanya akan lebih besar harapan dapat tercapai. Kenyamanan hidup di dunia dan juga di akhirat kelak.



Ya, manusia dengan alam bawah sadar sudah mengakui dalam hati nurani, bahwa sesudah kebinasaan dunia ini, akan ada lagi episode kehidupan berikutnya, dan itulah kehidupan yang terakhir (akhirat).


Hati nurani, hati kecil ini sering kali membisikkan suara kecil kebenaran hakiki, suara kecil yang bersih dan suci ini adalah bawaan / bekal yang sengaja dipasang oleh Sang Pencipta Alam Dia lah Yang Maha Kuasa atss Segalanya, Alloh Subhanahu wa Ta'ala.


Namun sayang suara hati kecil/ hati nurani sering terabaikan, seakan tertutup oleh lumpur kotor nafsu duniawi, seakan jauh di dasar samudera. Sehingga sepak terjang kehidupan manusia tidak tidak jarang mengabaikan rambu-rambu Sang Pencipta.


Sekaranglah saatnya hati nurani kita, mari kita bina, kita cuci kembali agar bersih, agar hati kita bisa dengan cermat, tajam, teliti, dapat memilah dan memilih jalan keselamatan hidup kita.


www.binanurani.com sebuah getaran dari hati kecil manusia, menebarkan tool, panel pengetahuan serta berbagai seluk beluk tentang kehidupan makhluk di bumi dengan perubahan bentuk menuju muara terakhir, kehidupan akhirat.


Binanurani.com diformat sebagai sebuah wahana edukasi terbuka buat khalayak ramai, semoga kehadirannya dapat diambil manfaatnya.




Hari Wuryanto

www.binanurani.com

antowur@yahoo.com

(0274) 6661971

Monday, August 4, 2008

Menghilangkan Lengket Seterika

Seterika yang permukaanya terasa lengket karena terlalu panas atau bahan yang diseterika menempel pada permukaan seterika, tentu sangat mengganggu saat menyeterika.
Untuk menghilangkan lengket, coba.....Selengkapnya

Friday, May 23, 2008

Mencoba ke Selatan dengan Membawa Kereta ke Utara

Seorang bernama Ji Liang bertemu dengan seseorang di kereta yang menuju utara di kaki Gunung Taiban. “kalian mau ke mana ?” Tanya JI Liang.

Kusir yang mengemudikan kereta nampat tidak peduli dengan pertanyaan tadi, orang yang duduk di bagian belankang seperti orang pangkat / bangsawa menjawab “Ke negara Chu”. Ji Liang agak terpana kemudian

.....selengkapnya

Monday, May 19, 2008

Kesan dan Pesan system mengaji di forumqhita

“Dahulu selama belum tahu ada mengaji al-Qur’an dan Al-Hadis dengan dimaknai satu kata demi satu kata beserta keterangannya, baru mengaji secara umunya, gak pernah ada pemahaman hukum yang masuk ke dalam hati. Kalaupun ada ya sebatas sebagai pengetahuan.

Pada tahun 1988, saya diajak untuk mengikuti....

selengkapnya